• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
Selasa, Oktober 27, 2026
Pantura Update
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral
No Result
View All Result
Pantura Update
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral
Home Jateng

Perbedaan Pura Mangkunegaran dan Keraton Solo, Mengapa Ada Dua Istana di Surakarta?

Redaksi Pantura Update by Redaksi Pantura Update
2 bulan ago
in Jateng, Nasional, Opini, Pendidikan
Perbedaan Pura Mangkunegaran dan Keraton Solo, Mengapa Ada Dua Istana di Surakarta?
219
SHARES
329
VIEWS

PANTURAUPDATE.COM – Kota Solo atau Surakarta memiliki keunikan yang tidak banyak ditemukan di daerah lain. Di kota ini terdapat dua pusat kebudayaan bangsawan Jawa yang masih bertahan hingga kini, yakni Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran.

Keduanya sama-sama memiliki akar sejarah dari Kerajaan Mataram Islam. Namun, keberadaan dua istana tersebut bukan terjadi secara kebetulan. Sejarahnya berkaitan erat dengan konflik perebutan kekuasaan, campur tangan VOC, hingga serangkaian perjanjian yang membagi wilayah Mataram pada abad ke-18.

Berawal dari Pemindahan Keraton

Sejarah Surakarta bermula ketika Pakubuwana II memindahkan pusat pemerintahan Mataram dari Kartasura ke Desa Sala pada 1745. Perpindahan tersebut dikenal sebagai Boyong Kedhaton, setelah Keraton Kartasura mengalami kerusakan akibat Geger Pecinan.

Keraton baru kemudian dikenal sebagai Keraton Surakarta Hadiningrat. Pemerintah Kota Surakarta menjadikan 17 Februari 1745 sebagai tonggak Hari Jadi Kota Solo.

Namun, konflik di tubuh Mataram belum berakhir. Melalui Perjanjian Giyanti pada 1755, Mataram terpecah menjadi Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwana III dan Kesultanan Yogyakarta di bawah Hamengkubuwana I.

BeritaTerkait

Student Exchange 2026 Universitas Wahid Hasyim dan Cavite State University: Mengenal Budaya Indonesia melalui Kegiatan Membatik di Zie Batik

BCA Tebar Dividen Interim Rp 3,07 Triliun, Ini Jadwal Pembayarannya

Arsenal Hancurkan Man City 3-0, The Gunners Juara Community Shield 2026

Dua tahun kemudian, muncul pecahan berikutnya. Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757 melahirkan Praja Mangkunegaran yang dipimpin Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa dengan gelar Mangkunegara I.

Mengapa Mangkunegaran Bukan Keraton?

Inilah perbedaan mendasar kedua istana tersebut. Kasunanan Surakarta merupakan pusat pemerintahan seorang sunan, sedangkan Mangkunegaran secara historis berstatus kadipaten yang dipimpin adipati.

Mangkunegara I memperoleh wilayah kekuasaan dan hak pemerintahan sendiri. Praja Mangkunegaran juga memiliki tentara independen pada masanya. Namun, kedudukannya tidak sama dengan Kasunanan yang dipimpin seorang Susuhunan.

Perbedaan status itu tercermin dalam tata ruang. Berdasarkan ketentuan yang lahir dari Perjanjian Salatiga, Mangkunegaran tidak diperkenankan memiliki alun-alun dan sepasang pohon beringin kembar seperti kerajaan. Pura Mangkunegaran juga tidak memiliki Balai Witana sebagai simbol takhta kerajaan.

Dua Istana, Dua Tradisi

Perbedaan tidak berhenti pada gelar dan bangunan. Kedua pusat budaya tersebut juga memiliki tradisi dan tata upacara masing-masing.

Keraton Kasunanan dikenal dengan berbagai tradisi seperti Grebeg dan Kirab Pusaka. Sementara Mangkunegaran memiliki tradisi sendiri yang diwariskan lintas generasi.

Meski demikian, keduanya sama-sama berperan penting dalam menjaga seni, busana, bahasa, arsitektur, dan tradisi Jawa di Surakarta.

Setelah Indonesia merdeka, kekuasaan politik kerajaan-kerajaan di Surakarta tidak lagi seperti masa sebelumnya. Mangkunegaran menyebut perubahan tersebut membuat perannya beralih terutama pada bidang sosial dan kebudayaan.

Hingga sekarang, Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran tetap menjadi bagian penting dari identitas Kota Solo. Dua istana tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah Mataram tidak berjalan dalam satu garis lurus, melainkan melalui serangkaian konflik dan pembagian kekuasaan yang akhirnya membentuk wajah Surakarta seperti yang dikenal saat ini.

Perbedaan keduanya justru memperlihatkan satu hal penting: di balik kemegahan dua istana di Solo, terdapat perjalanan sejarah panjang tentang politik, keluarga, kekuasaan, dan upaya mempertahankan kebudayaan Jawa.

Tags: Keraton SurakartaMangkunegaranMataramSejarah BangsaSOLO
Redaksi Pantura Update

Redaksi Pantura Update

BeritaTerkait

Student Exchange 2026 Universitas Wahid Hasyim dan Cavite State University: Mengenal Budaya Indonesia melalui Kegiatan Membatik di Zie Batik

Student Exchange 2026 Universitas Wahid Hasyim dan Cavite State University: Mengenal Budaya Indonesia melalui Kegiatan Membatik di Zie Batik

Oktober 27, 2026
BCA Tebar Dividen Interim Rp 3,07 Triliun, Ini Jadwal Pembayarannya

BCA Tebar Dividen Interim Rp 3,07 Triliun, Ini Jadwal Pembayarannya

Agustus 19, 2026

Arsenal Hancurkan Man City 3-0, The Gunners Juara Community Shield 2026

Agustus 19, 2026
Load More
Next Post
Semarak HUT ke-81 RI, Antusiasme Warga Padati Istana Merdeka

Semarak HUT ke-81 RI, Antusiasme Warga Padati Istana Merdeka

BeritaPopuler

  • Perbedaan Pura Mangkunegaran dan Keraton Solo, Mengapa Ada Dua Istana di Surakarta?

    Perbedaan Pura Mangkunegaran dan Keraton Solo, Mengapa Ada Dua Istana di Surakarta?

    219 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy

Copyright ©2026 Pantura Update - All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral

Copyright ©2026 Pantura Update - All rights reserved