PANTURAUPDATE.COM – Kabupaten Pekalongan kembali menghadirkan destinasi wisata alam yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pencinta petualangan. Di balik lebatnya hutan Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, berdiri Curug Bendang Luhur, sebuah air terjun yang kini dikenal sebagai lokasi canyoning atau aktivitas menuruni tebing menggunakan tali di tengah derasnya aliran air.
Wisata berbasis petualangan tersebut digagas oleh sekelompok pemuda setempat yang tergabung dalam Tim Kumbang Alang-Alang. Berbekal pengalaman berkegiatan di alam bebas, mereka mengembangkan potensi Curug Bendang Luhur menjadi destinasi ekstrem yang tetap mengutamakan aspek keselamatan.
Kini, kawasan yang sebelumnya hanya dikenal masyarakat sekitar itu mulai menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah yang ingin merasakan sensasi menuruni air terjun dengan perlengkapan khusus dan didampingi instruktur berpengalaman.
Suasana petualangan sudah terasa sejak peserta memulai perjalanan menuju lokasi. Jalur trekking menyusuri kawasan hutan menghadirkan udara pegunungan yang sejuk, suara gemericik sungai, serta rindangnya pepohonan yang masih alami. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari pengalaman sebelum memasuki tantangan utama.
Sesampainya di Curug Bendang Luhur, peserta terlebih dahulu mengikuti pengarahan mengenai teknik canyoning dan penggunaan perlengkapan keselamatan. Instruktur memastikan seluruh peserta memahami prosedur sebelum aktivitas dimulai.
Karabiner, tali pengaman, helm, dan body harness dipasang secara teliti. Setelah semua dinyatakan siap, peserta bergantian berdiri di bibir tebing sebelum perlahan menuruni dinding batu mengikuti derasnya aliran air terjun.
Pengelola Blanten Canyoning, Riki Pujianto, mengatakan ide menghadirkan wisata tersebut berawal dari aktivitas komunitasnya yang sering menjelajahi kawasan hutan di Desa Kutorojo.
Menurutnya, bentang alam Curug Bendang Luhur memiliki karakter yang sangat cocok untuk olahraga canyoning. Melihat potensi tersebut, komunitasnya kemudian berinisiatif memperkenalkannya kepada masyarakat sebagai destinasi wisata baru yang menggabungkan olahraga, edukasi, dan pelestarian alam.
“Awalnya kami hanya mencoba karena melihat potensi alam di desa ini sangat luar biasa. Beberapa teman memang memiliki pengalaman di bidang canyoning, sehingga muncul keinginan mengenalkan aktivitas ini kepada masyarakat luas,” kata Riki, Senin (6/7/2026).
Perjalanan mengembangkan destinasi tersebut dimulai dari kegiatan komunitas yang kemudian didokumentasikan melalui media sosial. Respons positif dari warganet membuat semakin banyak orang tertarik mencoba sensasi canyoning di Curug Bendang Luhur.
Sejak awal 2026, pengelola mulai membuka program open trip yang rutin diselenggarakan setiap akhir pekan maupun hari libur nasional. Antusiasme peserta terus meningkat seiring semakin dikenalnya destinasi tersebut di kalangan pencinta wisata alam dan olahraga ekstrem.
Untuk mengikuti kegiatan canyoning, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp185 ribu per orang. Tarif tersebut sudah termasuk perlengkapan keselamatan lengkap, makan siang, serta pendampingan instruktur yang telah memiliki pengalaman dalam kegiatan vertikal.
Riki menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan. Seluruh peralatan diperiksa sebelum digunakan dan setiap peserta wajib mengikuti briefing sebelum memasuki area air terjun.
“Kami tidak pernah mengabaikan aspek keamanan. Semua peserta harus mengikuti arahan instruktur dan menggunakan perlengkapan sesuai standar selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Selain menawarkan tantangan adrenalin, kawasan Curug Bendang Luhur juga menyuguhkan panorama alam yang memikat. Dari beberapa titik di jalur menuju lokasi, pengunjung dapat menikmati hamparan perbukitan hijau yang membentang luas. Saat cuaca cerah, pemandangan kawasan Kajen dan wilayah sekitarnya terlihat jelas dari ketinggian.
Salah seorang peserta, Olga, mengaku sempat merasa gugup sebelum mencoba canyoning. Namun rasa khawatir itu perlahan hilang setelah mendapatkan arahan dari instruktur dan merasakan langsung pengalaman menuruni air terjun.
“Awalnya deg-degan karena baru pertama kali mencoba. Setelah dijalani ternyata sangat seru dan tim pendamping juga membuat kami merasa aman sepanjang kegiatan,” katanya.
Hadirnya Blanten Canyoning menjadi bukti bahwa potensi wisata desa dapat berkembang melalui kreativitas masyarakat setempat. Berkat inisiatif para pemuda Desa Kutorojo, Curug Bendang Luhur kini tidak hanya dikenal sebagai air terjun alami, tetapi juga menjadi ikon wisata petualangan baru di Kabupaten Pekalongan yang menawarkan pengalaman berbeda bagi para pencinta alam dan aktivitas luar ruang.





