PANTURAUPDATE.COM – Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menyoroti besaran anggaran pengadaan kipas angin dalam program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang disebut mencapai Rp1,8 triliun. Sorotan tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial dan memicu beragam tanggapan dari publik.
Dalam unggahan yang dibagikan pada 16 Juli 2026, Rocky mencoba mengilustrasikan pembagian anggaran berdasarkan jumlah koperasi yang disebut akan menerima fasilitas tersebut. Mengacu pada data yang beredar, ia menyebut terdapat sekitar 83.000 unit Koperasi Desa Merah Putih yang direncanakan menjadi penerima.
Berdasarkan asumsi tersebut, Rocky menghitung nilai anggaran yang dialokasikan untuk setiap koperasi mencapai sekitar Rp21,68 juta apabila total anggaran Rp1,8 triliun dibagi secara merata.
Perhitungan itu kemudian menjadi dasar kritik yang disampaikan Rocky terhadap besaran anggaran pengadaan. Ia menyampaikan sindiran mengenai nilai alokasi tersebut melalui media sosial.
“Kira-kira kipas muternya sekencang apa?” tulis Rocky.
Ia kemudian melanjutkan komentarnya dengan kalimat satir lain yang mempertanyakan spesifikasi barang yang akan diadakan.
Unggahan tersebut dengan cepat menarik perhatian warganet dan memicu diskusi mengenai efisiensi penggunaan anggaran negara, khususnya dalam program yang berkaitan dengan pengembangan koperasi desa.
Sorotan terhadap anggaran pengadaan kipas angin ternyata tidak hanya datang dari Rocky Gerung. Sehari sebelumnya, isu serupa juga mencuat dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI bersama Kementerian Koperasi yang digelar pada Rabu (15/7/2026).
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mempertanyakan informasi mengenai pengadaan sekitar 1,8 juta unit kipas angin dengan nilai anggaran mencapai Rp1,8 triliun.
Dalam rapat tersebut, Mufti mengaku telah membandingkan harga kipas angin yang beredar di sejumlah platform perdagangan elektronik. Berdasarkan penelusurannya, harga kipas angin berdiri untuk kebutuhan rumah tangga umumnya berada pada kisaran Rp300 ribu hingga Rp338 ribu per unit.
Ia kemudian mempertanyakan perbedaan yang cukup besar antara harga pasar dengan nilai anggaran yang menjadi pembahasan. Dalam penyampaiannya, Mufti juga melontarkan kritik bernada sarkastik mengenai spesifikasi kipas angin yang dimaksud.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa pengadaan kipas angin yang ramai diperbincangkan bukan merupakan proyek yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi.
“Soal kipas angin itu saya tidak tahu. Pengadaannya bukan di kami,” ujar Ferry dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI.
Meski demikian, Ferry menjelaskan bahwa harga kipas angin dapat sangat bervariasi tergantung spesifikasi, kapasitas, dan peruntukannya. Ia mencontohkan bahwa kipas angin industri memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk rumah tangga.
Sebagai ilustrasi, Ferry menyebut pernah menemukan produk kipas angin industri tipe Imatsu MDF yang dipasarkan dengan harga sekitar Rp11,46 juta per unit di salah satu platform perdagangan elektronik. Namun, ia menegaskan belum mengetahui apakah spesifikasi tersebut berkaitan dengan pengadaan yang sedang menjadi sorotan.
“Saya enggak tahu persis,” katanya.
Hingga kini, polemik mengenai anggaran pengadaan kipas angin dalam program Kopdes Merah Putih masih menjadi perhatian publik. Perdebatan muncul karena adanya perbedaan asumsi mengenai harga satuan barang, mulai dari kisaran harga kipas angin rumah tangga, contoh harga kipas industri, hingga hasil perhitungan pembagian anggaran yang disampaikan Rocky Gerung.
Sejumlah pihak pun mendorong adanya penjelasan resmi mengenai spesifikasi teknis barang, mekanisme pengadaan, serta rincian penggunaan anggaran. Transparansi dinilai penting agar informasi yang berkembang di ruang publik dapat dipahami secara utuh sekaligus menghindari munculnya spekulasi terkait penggunaan dana negara.





