PANTURAUPDATE.COM – Jejak kolonial Belanda masih mudah ditemukan di sejumlah kota di Indonesia. Bandung, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, Solo hingga Magelang memiliki bangunan tua dengan ciri arsitektur yang berbeda-beda, mulai dari gedung pemerintahan, rumah tinggal, stasiun, hingga kawasan perdagangan.
Bangunan-bangunan tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu. Sebagian masih digunakan untuk kegiatan publik, perkantoran, perdagangan, hingga pariwisata. Lantas, mengapa bangunan kolonial lebih banyak ditemukan di kota-kota tertentu?
Sejarawan publik Hendaru Tri Hanggoro mengatakan keberadaan bangunan kolonial berkaitan erat dengan posisi sebuah kota pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Menurut dia, kota yang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, maupun aktivitas masyarakat Eropa cenderung memiliki lebih banyak bangunan peninggalan kolonial. Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta, misalnya, memiliki peran penting dengan karakter yang berbeda pada masa tersebut.
Dipengaruhi Perdagangan dan Pemerintahan
Faktor ekonomi menjadi salah satu alasan penting. Semarang berkembang sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan sehingga membutuhkan berbagai fasilitas pendukung aktivitas ekonomi dan administrasi.
Jakarta, yang saat itu dikenal sebagai Batavia, juga mempunyai kedudukan strategis sebagai pusat pemerintahan kolonial. Aktivitas politik dan perdagangan membuat pembangunan gedung pemerintahan, permukiman, fasilitas transportasi, serta bangunan komersial berkembang pesat.
Berbeda dengan keduanya, Yogyakarta memiliki latar yang lebih kuat sebagai pusat kekuasaan Kesultanan. Kondisi politik lokal tersebut turut memengaruhi pola pembangunan dan keberadaan bangunan kolonial di kota itu.
Bandung juga memiliki posisi penting pada masa kolonial, terutama sebagai pusat kegiatan di Jawa Barat. Perkembangan kota tersebut kemudian meninggalkan banyak bangunan dengan karakter arsitektur kolonial yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. Sejumlah bangunan bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Mengapa Bangunannya Bisa Bertahan Lama?
Banyak bangunan kolonial mampu bertahan bukan semata karena usianya, tetapi juga karena konstruksinya. Material seperti bata tebal dan kayu berkualitas digunakan pada sejumlah bangunan. Arsitekturnya pun beradaptasi dengan kondisi iklim tropis Indonesia.
Plafon tinggi dan jendela berukuran besar, misalnya, membantu menciptakan sirkulasi udara di dalam bangunan. Karakter tersebut membuat sejumlah bangunan tetap nyaman digunakan meski dibangun puluhan tahun lalu.
Faktor lain adalah bangunan tersebut tidak dibiarkan kosong. Sebagian dialihfungsikan sehingga tetap mendapatkan perawatan.
Konsep ini dikenal sebagai adaptive reuse, yakni menggunakan kembali bangunan lama untuk fungsi baru tanpa menghilangkan karakter pentingnya. Di Bandung, misalnya, sejumlah bangunan kolonial telah mengalami perubahan fungsi dan tetap digunakan untuk aktivitas komersial maupun kebudayaan.
Hal serupa terlihat di Yogyakarta. Bangunan bersejarah di kawasan kota tersebut dapat dipertahankan dengan menyesuaikan fungsi masa kini sekaligus tetap memperhatikan aturan kawasan cagar budaya.
Ada Peran Regulasi dan Komunitas
Keberlangsungan bangunan kolonial juga dipengaruhi status cagar budaya. Ketika sebuah bangunan memperoleh perlindungan hukum, perubahan maupun pembongkarannya tidak dapat dilakukan sembarangan.
Di sisi lain, komunitas pemerhati sejarah turut membantu menjaga keberadaan kawasan lama melalui kegiatan wisata sejarah, festival, dokumentasi, hingga advokasi pelestarian.
Semarang menjadi salah satu contoh. Revitalisasi Kota Lama tidak hanya mempertahankan bangunan bersejarah, tetapi juga mendorong pemanfaatannya sebagai ruang publik, museum, galeri, tempat usaha, dan kegiatan ekonomi kreatif.
Dengan demikian, banyaknya bangunan kolonial di suatu kota merupakan hasil dari pertemuan berbagai faktor. Posisi politik, aktivitas perdagangan, kondisi geografis, jumlah penduduk Eropa, kualitas konstruksi, hingga kebijakan pelestarian ikut menentukan apakah jejak tersebut masih terlihat hingga sekarang.
Karena itu, perbedaan jumlah bangunan kuno Belanda antarwilayah bukan sekadar persoalan usia bangunan. Di baliknya terdapat sejarah mengenai bagaimana sebuah kota tumbuh, untuk kepentingan apa ia dibangun, dan bagaimana generasi setelahnya memilih untuk merawat atau mengubah warisan tersebut.




