PANTURAUPDATE.COM – Kawasan Semarang bagian barat terus menunjukkan perkembangan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah. Didukung ekspansi kawasan industri, pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya kebutuhan hunian, wilayah ini dinilai memiliki prospek cerah bagi investasi properti dalam jangka panjang.
Perkembangan tersebut menjadikan Semarang Barat semakin menarik perhatian investor maupun pengembang. Selain menawarkan potensi kenaikan nilai aset, kawasan ini juga dinilai memiliki peluang menghasilkan pendapatan berkelanjutan melalui sektor penyewaan hunian yang kebutuhannya terus meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan di wilayah barat Kota Semarang berlangsung cukup pesat. Kehadiran kawasan industri, akses Jalan Tol Trans Jawa, hingga rencana pengembangan jaringan tol di kawasan Ngaliyan dan sekitarnya diyakini akan semakin memperkuat konektivitas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kawasan.
Tak hanya bertumpu pada sektor industri, pertumbuhan ekonomi Kota Semarang juga didorong oleh berkembangnya sektor jasa dan pariwisata. Revitalisasi sejumlah destinasi wisata, termasuk kawasan Kota Lama, dinilai berhasil meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan memberikan dampak positif terhadap kebutuhan properti, baik hunian maupun komersial.
General Manager CitraLand BSB City Semarang, Dessaf Setia Permana, mengatakan Semarang bagian barat memiliki sejumlah faktor fundamental yang membuat kawasan tersebut layak dipertimbangkan sebagai tujuan investasi properti.
Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam kegiatan customer gathering bersama nasabah prioritas BRI di Semarang, Sabtu (18/7/2026).
“Kami melihat Semarang bagian barat memiliki potensi pertumbuhan yang luar biasa. Kawasan industri terus berkembang, akses jalan tol semakin lengkap, dan kebutuhan fasilitas pendukung seperti hotel maupun hunian juga terus meningkat,” ujarnya.
Menurut Dessaf, Ciputra Group mulai mengembangkan kawasan CitraLand BSB City sejak 2012 setelah melihat potensi BSB City sebagai kawasan kota mandiri berskala besar yang memiliki prospek menjanjikan di Jawa Tengah.
Ia menjelaskan, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan nilai properti. Semakin mudah akses menuju suatu kawasan, semakin besar pula peluang kenaikan harga tanah maupun bangunan di wilayah tersebut.
Keberadaan Jalan Tol Trans Jawa, lanjutnya, telah memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi Kota Semarang. Dengan adanya rencana penambahan akses jalan tol di masa mendatang, posisi Semarang Barat diperkirakan akan semakin strategis sebagai koridor pertumbuhan ekonomi baru.
Selain faktor infrastruktur, Dessaf juga menilai iklim sosial di Kota Semarang menjadi nilai tambah bagi para investor. Menurutnya, kondisi masyarakat yang harmonis serta lingkungan usaha yang kondusif menjadi modal penting dalam mendorong investasi di berbagai sektor.
“Saya melihat Semarang memiliki potensi yang luar biasa. Kerukunan masyarakatnya menjadi kekuatan yang jarang saya temukan di kota lain. Iklim seperti ini sangat baik bagi pertumbuhan investasi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dessaf turut membagikan sejumlah pertimbangan yang perlu diperhatikan sebelum membeli properti sebagai instrumen investasi. Salah satunya adalah memperhatikan tingkat kelangkaan lahan karena keterbatasan pasokan umumnya berbanding lurus dengan potensi kenaikan nilai aset.
Selain itu, perkembangan kawasan sekitar, seperti hadirnya fasilitas publik, pusat bisnis, kawasan industri, maupun akses transportasi, juga menjadi indikator penting dalam menentukan prospek investasi.
Ia juga menyarankan investor memilih properti yang memiliki likuiditas tinggi agar lebih mudah disewakan ataupun dijual kembali ketika dibutuhkan.
Menurut Dessaf, indikator tersebut terlihat dari perkembangan harga tanah di kawasan CitraLand BSB City yang mengalami peningkatan signifikan sejak pertama kali dipasarkan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp1,8 juta per meter persegi, kini nilainya telah mencapai sekitar Rp9 juta per meter persegi.
Di sisi lain, tingginya aktivitas industri turut menciptakan permintaan hunian sewa dari tenaga kerja profesional hingga ekspatriat yang bekerja di kawasan sekitar. Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk memperoleh pendapatan pasif selain keuntungan dari kenaikan nilai aset.
Dengan masih berlakunya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga akhir tahun, momentum investasi properti dinilai semakin menarik. Kombinasi pertumbuhan kawasan, pembangunan infrastruktur, dan tingginya permintaan pasar diyakini akan membuat Semarang Barat tetap menjadi salah satu destinasi investasi properti unggulan di Jawa Tengah.





