PANTURAUPDATE.COM – Hasil survei terbaru yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan perubahan signifikan dalam peta elektabilitas tokoh nasional. Dalam simulasi semi terbuka yang dilakukan sepanjang November 2025 hingga Juli 2026, elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tercatat melampaui Presiden RI Prabowo Subianto.
Berdasarkan hasil survei tersebut, tingkat keterpilihan Prabowo mengalami penurunan dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 14,5 persen pada Juli 2026. Di sisi lain, elektabilitas Dedi Mulyadi justru mengalami lonjakan cukup tajam, dari 19,7 persen menjadi 35 persen pada periode yang sama.
Temuan itu pun memicu beragam respons dari masyarakat, khususnya di Jawa Barat yang kini dipimpin Dedi Mulyadi.
Salah seorang warga Rancasari, Kota Bandung, Irsan Septia (32), menilai hasil survei perlu dicermati secara menyeluruh. Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat angka elektabilitas, tetapi juga memahami indikator serta metode yang digunakan dalam pelaksanaan survei.
“Kalau hanya sebatas wacana atau tergantung lokasi surveinya, bisa saja popularitas Kang Dedi Mulyadi memang sedang lebih tinggi saat ini,” kata Irsan, dikutip dari TribunJabar.id, Jumat (31/7/2026).
Ia menilai tingginya perhatian publik terhadap Dedi Mulyadi tidak terlepas dari aktivitasnya di media sosial yang dinilai dekat dengan masyarakat. Berbagai isu yang sedang ramai diperbincangkan kerap mendapat respons langsung dari Dedi melalui berbagai platform digital.
Menurut Irsan, pendekatan tersebut membuat sosok Dedi lebih mudah diterima masyarakat, terutama kalangan pengguna media sosial. Apalagi, sejumlah konten yang diunggah kerap menghadirkan kisah-kisah yang menyentuh sisi emosional penonton.
“Ditambah penyajian kontennya yang cukup dramatis sehingga penonton bisa merasa terharu, kagum, bahkan ikut larut dalam cerita yang disampaikan,” ujarnya.
Selain faktor popularitas Dedi Mulyadi, Irsan juga menilai sejumlah kebijakan pemerintah pusat menjadi salah satu penyebab turunnya elektabilitas Prabowo dalam survei tersebut.
Ia menyoroti komunikasi publik pemerintah yang dinilainya belum mampu menjawab berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, sejumlah pernyataan Presiden Prabowo dalam beberapa kesempatan juga kerap menuai kritik.
“Sebagian masyarakat merasa ada kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat. Itu bisa memengaruhi persepsi publik,” ucapnya.
Meski demikian, Irsan mengingatkan bahwa hasil survei bukanlah satu-satunya tolok ukur untuk memprediksi kontestasi politik nasional di masa mendatang.
Menurutnya, Prabowo masih memiliki basis dukungan yang luas di berbagai daerah sehingga dinamika politik masih sangat mungkin berubah.
“Untuk menjadi pemimpin nasional tentu tidak cukup hanya mengandalkan popularitas di media sosial. Masih ada banyak faktor lain yang menentukan. Kita lihat saja bagaimana perkembangan ke depan,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Bagus (32), warga Sukaluyu, yang menilai meningkatnya elektabilitas Dedi Mulyadi merupakan hal yang wajar mengingat popularitas dan aktivitasnya belakangan ini semakin dikenal masyarakat.
Bagus mengatakan mayoritas warga Jawa Barat mengetahui berbagai program dan gaya kepemimpinan Dedi selama menjabat sebagai gubernur, meski tetap ada sebagian masyarakat yang memiliki pandangan berbeda terhadap kebijakan-kebijakannya.
“Saya sudah membaca hasil surveinya. Menurut saya wajar kalau elektabilitas Kang Dedi meningkat karena masyarakat banyak yang mengetahui kinerjanya,” ujar Bagus.
Hasil survei SMRC tersebut kembali menunjukkan bahwa dinamika elektabilitas tokoh nasional dapat berubah dalam waktu relatif singkat. Meski demikian, perkembangan politik menuju kontestasi mendatang masih akan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kinerja pemerintahan, komunikasi politik, hingga persepsi publik yang terus berkembang.





