PANTURAUPDATE.COM – Pemerintah Kota Semarang menggandeng TNI Angkatan Darat (TNI AD) dalam penerapan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Kota Semarang menjadi salah satu daerah yang diproyeksikan sebagai lokasi percontohan penerapan teknologi tersebut.
Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya mencari alternatif penanganan persoalan sampah melalui pemanfaatan teknologi. Pengolahan sampah dengan pirolisis diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, persoalan sampah membutuhkan penanganan yang tidak hanya mengandalkan cara-cara konvensional.
“Persoalan sampah sudah sangat mendesak. Kita tidak bisa terus menggunakan cara lama. Teknologi harus dipakai untuk mengurangi sampah sekaligus mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai,” kata Agustina dalam keterangan yang disampaikan akhir pekan ini.
Selain Semarang, penerapan teknologi pirolisis tersebut direncanakan menyasar sejumlah daerah lain. Di antaranya Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kabupaten Bogor.
Menurut Agustina, keterlibatan TNI AD dalam program tersebut menjadi bagian dari penguatan kolaborasi lintas institusi untuk menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks.
Ia menegaskan, status Semarang sebagai salah satu daerah pilot project harus diikuti dengan hasil yang dapat diukur. Bukan sekadar menghadirkan teknologi, tetapi memastikan penggunaannya benar-benar mampu memberikan dampak terhadap pengurangan sampah dan lingkungan.
“Kalau Kota Semarang dipercaya menjadi bagian dari pilot project nasional, maka ukurannya adalah berapa banyak sampah yang bisa dikurangi, seberapa aman teknologinya, dan sebesar apa manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya.
Agustina juga menekankan bahwa penggunaan teknologi pirolisis tidak berarti mengesampingkan upaya pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya.
Pemkot Semarang, kata dia, tetap menjalankan pendekatan dari hulu melalui berbagai program, termasuk Semarang Bersih dan gerakan Semarang Wegah Nyampah. Edukasi serta perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah.
Sementara itu, teknologi pengolahan disiapkan untuk menangani sampah residu yang belum dapat diselesaikan melalui metode konvensional.
“Teknologi bukan berarti masyarakat boleh berhenti memilah sampah. Semakin maju teknologinya, semakin penting sampah dipilah dari sumbernya,” jelas Agustina.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan memperhatikan sejumlah aspek dalam pengembangan teknologi tersebut, mulai dari dampak lingkungan, regulasi, keselamatan hingga keberlanjutan ekonomi.
Pemkot Semarang ingin memastikan teknologi yang diterapkan bukan sekadar modern, tetapi mampu menjawab persoalan sampah secara nyata.
“Kalau sampah berkurang, lingkungan lebih baik, dan hasil pengolahannya bisa memberi nilai tambah, itu baru namanya solusi,” kata Agustina.





