PANTURAUPDATE.COM — Nama Citra Nur Ramadhani disebut Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Citra merupakan salah satu siswa Sekolah Rakyat asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Kisah perjuangannya untuk tetap bersekolah menjadi perhatian Presiden Prabowo ketika menyampaikan pidato kenegaraan.
Prabowo mengungkapkan, Citra sempat berada dalam kondisi hampir putus sekolah ketika duduk di kelas 4 sekolah dasar. Saat itu, Citra harus membantu ibunya berjualan kacang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kondisi keluarga Citra tidak mudah. Ayahnya telah meninggal dunia, sementara sang ibu merupakan penyandang disabilitas.
“Citra Nur Ramadhani dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan di Provinsi Sulawesi Selatan. Ketika kelas 4 sekolah dasar, Citra hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Kesempatan Melanjutkan Pendidikan
Kehadiran Sekolah Rakyat kemudian memberikan kesempatan bagi Citra untuk kembali menata masa depannya melalui pendidikan. Menurut Prabowo, keberadaan sekolah tersebut memungkinkan Citra melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan keluarganya menghadapi kesulitan seorang diri.
Perjalanan Citra di Sekolah Rakyat juga menunjukkan perkembangan yang positif. Prabowo menyebut Citra berhasil meraih juara dalam kejuaraan karate tingkat Kabupaten.
“Sekolah Rakyat memberi Citra kesempatan untuk belajar tanpa meninggalkan keluarganya menghadapi perjuangan sendirian. Citra pun kemarin berhasil meraih juara karate tingkat Kabupaten,” kata Prabowo.
Kisah Citra menjadi salah satu contoh yang disampaikan Presiden untuk menggambarkan tujuan pemerintah menghadirkan Sekolah Rakyat, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Upaya Memutus Rantai Kemiskinan
Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah khusus berasrama bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Selain pendidikan, sekolah tersebut menyediakan berbagai fasilitas pendukung, guru yang kompeten, makanan bergizi, serta lingkungan belajar yang aman.
Menurut Prabowo, program tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Kondisi ekonomi keluarga, kata dia, tidak boleh menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan memperbaiki masa depan.
“Kita harus memutus rantai kemiskinan. Kalau orangtua mereka menghadapi nasib yang kurang baik, mengalami kondisi keterpurukan, kondisi kemiskinan, anak mereka tidak boleh terus miskin,” ujar Prabowo.
Ia menegaskan, negara perlu hadir melalui intervensi kebijakan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki akses terhadap pendidikan yang layak. Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan amanat Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945.
Hingga saat ini, pemerintah telah membuka 93 Sekolah Rakyat permanen serta 182 Sekolah Rakyat rintisan. Pemerintah menargetkan keberadaan Sekolah Rakyat dapat semakin diperluas.
Prabowo mengatakan, ke depan setiap kabupaten diharapkan memiliki satu Sekolah Rakyat. Dengan demikian, semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu seperti Citra memiliki kesempatan untuk tetap bersekolah dan mengejar cita-cita tanpa harus meninggalkan keluarganya dalam menghadapi kesulitan ekonomi.





